Joyland Festival 2019: Mengakhiri Tahun dengan Festival Musik yang Keren!

Joyland Festival 2019: Mengakhiri Tahun dengan Festival Musik yang Keren! – Langit mendung memayungi Jakarta. Meski telat datang, musim penghujan tetap milik bulan Desember. Sedikit khawatir tak bisa menikmati jalannya hari dengan maksimal, para penonton tetap berangkat menuju Lapangan Panahan Senayan, Jakarta, tempat dilangsungkannya Joyland Festival 2019.

Sejak awal deretan penampil diumumkan, festival musik yang terakhir diselenggarakan pada tahun 2013 ini berhasil membuat tak sabaran. Ditambahkan ‘kebaruan’ yang mereka usung dengan menghadirkan pangung standup comedy dan area pemutaran film dalam sebuah festival musik, membuat rasa penasaran makin kuat. Pengalaman seperti apa yang akan didapatkan?

Joyland Festival 2019: Mengakhiri Tahun dengan Festival Musik yang Keren!

– Adanya area berjumlah lima yang dikonsep sedemikian rupa untuk penghiburan selama dua hari.

Pada kawasan Senayan, cukup terlihat baik. Mendung hanya sedikit membasahi Lapangan Panahan. Seketika memasuki area festival, aroma rumput segar menyambut. Di sebelah utara dari pintu masuk, berdiri Joyland Stage sebagai panggung utama. Sementara itu Lily Pad Stage White Peacock Stage di sebelah selatan dan di sebelah timur. Di samping Lily Pad Stage terdapat Shrooms Garden sementara jauh di seberangnya Cinerillaz. Lima area ini akan menghibur pengunjung Joyland Festival 2019 selama dua hari.

Festival hari pertama dibuka oleh penampilan Mad Madmen di Lily Pad Stage yang tidak boleh dilewatkan penampilannya. Setelahnya Ardhito Pramono di Joyland Stage. Mendekati lagu penghabisan Ardhito, pengunjung belum begitu ramai. Mungkin karena mendung yang masih membayangi langit Jakarta. Sebab bila ingin berkaca pada Joyland Festival terdahulu, deretan penampil yang diusung tak perlu diragukan pengunjung kualitasnya. Pada tahun ini Joyland Festival menetapkan misi untuk menampilkan musisi berkualitas ke hadapan pendengar lebih luas.

– Berhasil mencapai misi, Joyland Festival 2019 menghadirkan penampil berkualitas

Merujuk pada misi tersebut, Joyland Festival dapat dianggap berhasil. Melalui festival ini banyak musisi bagus yang luput dari jangkauan para penonton mencuat sebagai bagian dari wawasan. Contohnya Poem Modulation yang tampil di Lily Pad Stage hari pertama. Dengan bebunyian unik nan berisik, dipadu dengan pembacaan puisi yang manis, mereka berhasil menyingkap mendung.

Joyland Festival 2019: Mengakhiri Tahun dengan Festival Musik yang Keren!

Atau Yves Tumor. Produser musik elektronik asal Amerika ini nyatanya rata-rata baru didengar. Tampil pada malam hari pertama, aksi panggungnya cukup gila untuk pengalaman perdana mendengarkan musiknya. Penataan lampu pada panggung nan redup nyaris gelap, musik yang mendentum dan Sean Bowie yang aktraktif menguasai panggung, cukup sebagai alasan untuk mengulik lagunya di platform streaming musik.

Namun yang tidak kalah unik dan menarik hati dari Joyland Festival 2019 adalah keberadaan White Peacock Stage. Di sana Reda Gaudiamo, Frau dan Nonaria bersenandung akrab. Kesan intim mencuat seketika pintu ruangan kecil berpendingin udara itu ditutup. Pada hari pertama, Reda menampilkan story telling berteman gitar kecil. Sementara Frau menyuguhkan repertoar singkat di atas liris dan jenaka permainannya. Meski sedikit bentrok dengan penampilan Sir Dandy di Lily Pad Stage, tarian jemari Frau tetap ciamik di atas tuts. Penonton penuh sehingga pendingin udara seakan tak berguna.

Berikunya performance Mondo Gascaro dengan dua legenda musik jazz Indonesia juga menambah kesan pada festival ini.  Oele Pattiselanno dan Rien Djamain bersanding dengan Mondo di Lily Pad Stage, membawakan beberapa lagu yang sudah bisa disebut tembang kenangan. Salah satunya ‘Sabda Alam’ ciptaan Ismail Marzuki yang dipopulerkan oleh Rien Djamain & Jack Lesmana Combo. Tembang ini sempat pula dibawakan dalam album (self titled) oleh band White Shoes and the Couples Company yang tampil di panggung sama menjelang tengah malam hari pertama.

– Tak peduli pada kenyataan esok adalah Senin, pengunjung hari kedua lebih ramai

Hari kedua, pengunjung lebih ramai. Seakan tak peduli pada kenyataan esok adalah Senin, sementara festival ini bakal bergulir hingga pukul 00.30 WIB. Deretan penampil internasional di hari kedua pun agaknya menjadi salah satu alasan. Anna Of The North yang lincah berlarian menghampiri tiap sudut panggung; Hatchie yang seakan membawa penonton menikmati Cocteau Twins dan The Sundays secara bersamaan; dan Frankie Cosmos yang menghibur dengan jagat raya kecilnya.

Sementara White Peacock Stage dengan kehangatan yang sama di hari kedua, menampilkan Nonaria bersama Ariyo Zidni yang membacakan cerita jenaka dengan senandung lagu. Anak-anak mengisi saf depan bersama para orang tua.

Adapun kehadiran standup comedy di Shrooms Garden, cukup efektif memberikan energi positif untuk pengunjung yang rehat. Hanya saja, materi para komika yang cenderung vulgar sepertinya bisa jadi bahan evaluasi di tahun berikutnya mengingat festival ini juga dinikmati oleh kanak-kanak.

Sementara Cinerillaz tak kalah menyenangkan. Karya-karya yang dikurasi oleh Anggun Priambodo berhasil memberi wawasan baru terhadap film. Ada film yang meminjam sudut pandang merpati, hingga yang eksekusinya masih menggunakan film 16mm. Cukup aneh tapi layak disimak untuk kita yang biasa hanya menonton film bioskop.

– Pengunjung yang rebahan dan ondel-ondel yang hadir di tengah kerumunan

Pemilihan lokasi yang tepat nyatanya berpengaruh pula kepada pengalaman musikal. Rerumputan Lapangan Panahan memungkinkan penonton rebahan atau sekadar selonjoran menikmati para penampil. Para penampil pun agaknya tak keberatan dengan kesan santai para penonton ini. Juga kehadiran water station di beberapa sudut area Joyland Festival layak dapat apresiasi. Pengunjung bebas isi ulang botol minum mereka. Langkah konkret yang bisa ditiru festival lain, alih-alih hanya menggalakkan penggunaan botol minum isi ulang kepada para pengunjung.

Joyland Festival 2019: Mengakhiri Tahun dengan Festival Musik yang Keren!

Selain daripada itu, hal unik yang juga subtil pada festival ini yaitu keterlibatan seniman dalam penyelenggaraan. Jika pada umumnya kehadiran instalasi dari para seniman yang terlibat disimplifikasi untuk sekadar pemanis swafoto, berbeda dengan yang dilakukan Ruth Marbun. Seniman yang terlebih dahulu berkecimpung di dunia fashion ini menghadirkan ondel-ondel yang hilir mudik berinteraksi dengan pengunjung. Alih-alih menggangu kekhusyukan menikmati festival, ondel-ondel yang hadir di tengah kerumunan malah mengajak pengunjung untuk berpikir ulang akan posisi ikon budaya Betawi ini di tengah kehidupan modern.

Menjelang penghabisan, Efek Rumah Kaca sebagai kurator Lily Pad Stage tampil sebelum ditutup oleh Barasuara di Joyland Stage. Lagi-lagi kejutan dihadirkan Cholil dkk, di atas panggung. Najwa Shihab bergabung membacakan sebuah sajak yang selanjutnya disambung lantunan lagu ‘Seperti Rahim Ibu’. Penonton khidmat.

Mendekati penghujung malam, sebagian pengunjung sudah berangsur pulang. Namun Barasuara tetap energik menuntaskan malam. Iga Massardi, punggawa Barasuara, bahkan mengapresiasi para pengunjung yang masih bertahan dengan seloroh. “Semoga tiap-tiap dari kalian dapat toleransi dari bosnya kalau (besok) telat, ya. Atau yang mahasiswa dapat toleransi dari dosennya,” ujar Iga.

Barasuara menutup Joyland Festival 2019 dengan lagu ‘Guna Manusia’. Bersamaan dengan itu, pengalaman musikal pengunjung di penghujung tahun sepertinya akan menggumpal menjadi kerinduan. Kerinduan akan penggarapan sebuah festival yang matang, nyaman, dan ramah untuk semua penikmat musik lintas usia.

Continue Reading

Share

Bukan Cuma ‘Kopi’ dan ‘Senja’, Kopibasi Membuktikan Makna Folk

Bukan Cuma ‘Kopi’ dan ‘Senja’, Kopibasi Membuktikan Makna Folk – Menunggu adalah pekerjaan yang perlu kesabaran ekstra, juga kesiapan mental yang cukup andaikata hasilnya tak sesuai bayangan. Menunggu bisa bikin kecewa atau malah sebaliknya: bahagia tak kepalang. Menunggu, dengan demikian, membuat kita dipenuhi ketidakpastian.

Kopibasi, paguyuban folk yang berasal Yogyakarta, kiranya paham betul dengan konsep tersebut. Dalam menunggu, mereka memerlukan waktu sampai enam tahun lamanya untuk merilis album debut yang bertajuk Anak Pertama pada awal Desember 2019 kemarin.

Bukan Cuma 'Kopi' dan 'Senja', Kopibasi Membuktikan Makna Folk

Sebanyak 10 lagu yang termaktub dalam album tersebut seperti membayar tuntas penantian yang mereka hadapi. Kopibasi mengubah musik sebagai wahana bersuka cita dalam Anak Pertama. Dengan iringan folk yang semarak, sebagaimana jamuan pesta musim panas, mereka bertutur tentang apa saja: cinta, kerinduan, hingga perasaan yang menolak untuk luruh.

Semua elemen-elemen itu dijahit secara rapi lewat satu tema besar berwujud: keluarga.

– Jalan yang Panjang

Sang vokalis, Galih Fajar, mengaku bahwa lamanya pembuatan album disebabkan oleh banyaknya kepala yang ada di Kopibasi. Mau tak mau, dalam keadaan tersebut, membikin mereka kerap terlibat adu argumen, baik soal musikalitas atau penulisan lirik.

Pernyataan Galih memang tak salah. Kopibasi tergolong gemuk sebagai band. Selain Galih, ada lima personel lain yang mengisi struktur band: Pradesta (gitar), Alfian (gitar), Istiq (bass), Tot Yudi (violin), dan Mathorian Enka (perkusi).

Eksistensi Kopibasi bermula dari komunitas apresiasi sastra bernama Ngopinyastro di Yogyakarta. Nama Kopibasi, seperti dituturkan Galih, muncul dari sebuah obrolan ringan—tanpa ada maksud untuk menyerang penikmat kopi yang militan.

“Sengaja bahwa [nama Kopibasi] tidak dipisah agar menjadi fonem yang baru. Atau, supaya bisa lebih mudah dicari di SEO [Search Engine Optimization],” jelas Galih sembari tertawa.

Mulanya, Kopibasi tampil dengan format musikalisasi puisi. Secara balut bossanova cara mereka memainkannya, sebuah ragam musik yang populer di Brasil. Namun, format ini ternyata tak bertahan lama. Maka, pada 2016, mereka pun memutuskan untuk pindah haluan ke folk.

“Karena dalam rentang 2014 sampai 2015, personelnya [Kopibasi] tinggal aku sama Matho saja,” ungkapnya kepada salah satu media berita. “Akhirnya, kami mengambil sikap untuk merombak musik Kopibasi.”

Transisi dari bossa ke folk diakui Galih bukanlah hal yang sulit sebab “folk tidak mempunyai pattern tertentu seperti halnya bossa.”

Pada fase ini, Kopibasi kedatangan personel baru dan mulai menyusun lagu sendiri. Dari bagian sisi musik, mereka banyak mengambil pengaruh warna Americana—perpaduan folk, country, dan rock. Sedangkan bagi aspek penulisan lirik, mereka terinspirasi dari bait-bait dalam puisi.

“Sengaja berproses seperti itu karena kami ingin menjadikan lirik sebagai sebuah objek yang bisa, katakanlah, berbicara, seperti halnya di lukisan,” terang Galih.

Setelah berkutat dalam proses selama kurang lebih tiga tahun, album mereka pun jadi. Menurut Galih, album Anak Pertama berangkat dari pengalaman kecil para personel, atau dalam konteks ini: keterikatan dengan keluarga.

Dalam albumnya, Kopibasi ingin berkisah bahwa keluarga menyimpan banyak dimensi, banyak rupa, serta banyak problema yang—entah disadari atau tidak—berandil dalam membentuk jatidiri mereka sebagai manusia.

Walhasil, tak heran jika lagu-lagu Kopibasi dalam Anak Pertama banyak memuat narasi mengenai relasi ayah dan anak, anak sebagai entitas yang baru, hingga keyakinan bahwa rumah adalah sebaik-baiknya tempat untuk pulang.

– Semesta Folk dan Kehidupan

Musik dalam Anak Pertama dibangun di atas pondasi folk seperti yang sering dibawakan band-band macam Mumford and Sons, Of Monster and Men, The Lumineers, hingga Edward Sharpe and the Magnetic Zeros.

Kopibasi menyatukan petikan gitar, gesekan violin, dan pukulan perkusi yang ritmis menjadi satu kesatuan yang menyegarkan.

Bukan Cuma 'Kopi' dan 'Senja', Kopibasi Membuktikan Makna Folk

Ini bisa dijumpai sejak nomor pertama, “Demi,” yang energik sekaligus membuka ruang selebar-lebarnya bagi para pendengar—atau penonton bila saat konser—untuk sing along bersama. Kemudian di “Bapak,” alunan violin menjadi kunci dalam membentuk konstruksi lagu. Dia bisa meneteskan nada-nada yang cepat sekaligus syahdu lagi menyanyat.

Namun, lagu tersebut kuat bukan semata karena musiknya, melainkan juga sebab liriknya yang elegan: “Kau belum puas jadi bapak, aku belum lunas jadi anak.” Dilanjutkan, “Hidup sudah habis apa mati nanti romantis?”

Lagu “Bapak” terdengar begitu relevan untuk menggambarkan betapa (selalu) kompleksnya relasi antara seorang ayah dan anak. Pertentangan ide, yang berkelindan dengan kuatnya ambisi satu sama lain dalam memaknai hidup maupun cita-cita, menjadi pemandangan yang lazim dijumpai.

Terkadang, kerumitan itu membawa ke titik panas yang berkepanjangan. Mungkin juga justru membuat keduanya sadar bahwa kompromi merupakan solusi yang realistis untuk diambil.

Pada nomor “Payung,” Kopibasi mengajak pendengarnya untuk nggrantes berjamaah. Sebaris lirik berbunyi “Katamu kita tak lagi butuh rindu” membuat perasaan seolah diterjang badai hingga luluh lantak tanpa sisa. Kenangan dua insan yang pernah merajut tali asmara tak ubahnya jejak yang harus segera dihapuskan.

Untuk saya, track favorit tetap layak disematkan pada “Cukup Pagi yang Telanjang” serta “Deru.” Di “Cukup Pagi yang Telanjang,” kombinasi yang dihasilkan dari tuts piano, violin, dan gitar akustik merupakan pelarian paripurna untuk mereka yang dihajar keragu-raguan. Sedangkan di “Deru,” bagian ketika Kopibasi menampilkan deklamasi di tengah lagu adalah hal terbaik yang mesti Anda perhatikan.

Mendengar keseluruhan materi yang terdapat dalam Anak Pertama tak ubahnya seperti tengah melakukan ritus perjalanan dan pencarian makna akan bagian dari hidup yang paling sederhana: keluarga. Ada kehangatan, luka masa lalu yang berupaya untuk diobati, hingga cinta yang abadi.

Hal menarik dari album baru Kopibasi ialah bahwa materi mereka tak terjebak klise, sebagaimana biasa dijumpai di band-band folk pada umumnya yang meramaikan kancah musik lokal dalam kurun waktu tiga atau empat tahun belakangan ini.

“Mungkin karena kami tidak memikirkan hal itu, ya. tak dapat dipungkiri bahwa kopi dan senja seperti menjadi dosanya folk. Sejak awal, kami berusaha untuk enggak terlalu berfokus ke sana. Kami ingin musik kami menjadi bentuk kebebasan tersendiri,” jawab Galih.

Terlepas dari kebosanan pendengar atas kopi, senja, dan hal sendu lainnya, Galih percaya bahwa folk akan selalu eksis. Pasalnya, folk “menyentuh satu ruang yang tidak bisa disentuh genre lain.” Ini pula yang lantas membikin ia yakin bahwa Kopibasi bakal tetap konsisten dengan karakter musik yang ada.

“Aku bayangin [album berikutnya] nanti bakal lebih filmis,” katanya, optimis.

Dan, rasa-rasanya, Anak Pertama menjadi semacam permulaan yang baik.

Folk berbeda dengan world music. World music memiliki aturan (kode etik) tertentu dalam memainkannya, kebanyakan aturan tersebut bersifat sakral. Musik folk tidak seperti itu. Folk tak terikat dan bebas dalam mengekspresikan corak musik, tidak jarang juga musisi-musisi folk menggabungkan beberapa musik etnik yang berbeda dalam satu lagu.

Bagaimanapun juga, folk tercipta dari corak world music yang dimainkan sehari-hari untuk menghibur diri, membuang rasa jenuh dan kebosanan dengan alat musik seadanya.

Musik folk dapat diartikan sebagai dua kesatuan musik yang berbeda. Musik folk dapat diartikan sebagai musik tradisional/musik kerakyatan yang tersebar di setiap negara. Musik folk pun dapat diartikan sebagai genre musik yang muncul di pertengahan abad ke-20, atau lebih dikenal dengan nama The (Second) Folk Revival atau Contemporary Folk Music yang mencapai puncaknya di era 60-an.

Continue Reading

Share